BAHAYA KELAS KEBAKARAN B YANG SULIT DIPADAMKAN DAN CARA PENANGANANNYA
Bahaya Kelas Kebakaran B yang sulit dipadamkan dan Cara Penanganannya
![]() |
Kelas Kebakaran B |
A. Apa Itu Kebakaran Kelas B?
Kebakaran Kelas B adalah jenis kebakaran yang terjadi pada bahan bakar cair dan gas yang mudah terbakar,
Contohnya misalnya seperti minyak, bensin, tiner, dan gas elpiji.
Kebakaran jenis ini sering terjadi di fasilitas yang menyimpan bahan bakar dalam jumlah besar, seperti pom bensin, gudang BBM, pabrik kimia, dan area distribusi energi.
Karakteristik Kebakaran Kelas B yang Harus Diketahui
Kebakaran Kelas B adalah salah satu jenis kebakaran yang sangat berbahaya karena terjadi pada bahan bakar cair seperti minyak, bensin, tiner, dan LPG.
Kebakaran ini banyak terjadi di sektor industri, pabrik kimia, dan fasilitas penyimpanan BBM. Memahami karakteristiknya sangat penting agar penanganan dapat dilakukan dengan tepat dan mencegah kerugian besar.
1. Mudah Menjalar
Kebakaran Kelas B memiliki sifat yang berbeda dari kebakaran lainnya, salah satunya adalah kemampuannya menjalar dengan sangat cepat.
Cairan bahan bakar tidak hanya terbakar di satu titik, tetapi juga merembet melalui aliran atau percikan bahan bakar yang meluber.
Sifat mudah menjalar ini semakin berbahaya karena bahan bakar cair dapat menguap pada suhu ruang, menghasilkan uap mudah terbakar yang menyebar di udara.
Jika ada percikan api kecil, seluruh area bisa tersambar api hanya dalam hitungan detik. Inilah alasan mengapa Kebakaran Kelas B menjadi ancaman serius di SPBU, gudang BBM, dan kilang minyak.
2. Sulit Dipadamkan dengan Air
Kesalahan paling fatal dalam menghadapi Kebakaran Kelas B adalah mencoba memadamkannya dengan air.
Air tidak mampu memutus rantai reaksi pembakaran bahan bakar cair.
Bahkan, penggunaan air justru membuat api menyebar karena bahan bakar akan mengapung di atas permukaan air dan terus terbakar.
Untuk menghentikan Kebakaran Kelas B, dibutuhkan alat pemadam yang sesuai seperti :
- Busa (foam),
- Serbuk kimia kering (dry chemical), atau
- Karbon dioksida (CO₂).
Media ini efektif menutup permukaan bahan bakar agar oksigen tidak bisa masuk, sekaligus menghentikan reaksi kimia yang mempertahankan api.
3. Berpotensi Menimbulkan Ledakan Besar
Kebakaran Kelas B bukan hanya menghasilkan api besar, tetapi juga dapat memicu ledakan yang menghancurkan.
Hal ini disebabkan oleh sifat bahan bakar cair yang menguap dan menghasilkan campuran uap yang mudah terbakar.
Jika uap ini terperangkap di ruang tertutup, lalu terkena sumber panas, maka ledakan besar tidak bisa dihindari.
Inilah sebabnya prosedur keselamatan dalam menghadapi Kebakaran Kelas B harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Industri minyak dan gas selalu menekankan penggunaan peralatan anti percikan, ventilasi yang baik, dan keberadaan alat pemadam api khusus.
Kesalahan kecil bisa menjadi pemicu tragedi besar yang memakan korban jiwa dan kerugian material.
Dengan memahami karakteristik Kebakaran Kelas B ini, kita dapat lebih waspada dan memilih metode pemadaman yang tepat.
Selalu gunakan APAR jenis foam atau dry chemical untuk situasi ini dan jangan pernah menggunakan air.
C. Lokasi Rentan Terjadinya Kebakaran Kelas B
1. SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum)
SPBU merupakan salah satu lokasi yang sangat rentan terjadi kebakaran kelas B. Tempat ini menjadi titik pengisian bahan bakar seperti bensin dan solar yang sifatnya mudah terbakar.
Aktivitas pengisian bahan bakar yang melibatkan cairan dengan tingkat volatilitas tinggi menjadikan SPBU masuk dalam kategori lokasi dengan risiko kebakaran kelas B yang sangat besar.
Oleh karena itu, penerapan standar keselamatan harus selalu diperhatikan di setiap pengoperasian pompa bahan bakar.
Selain itu, keberadaan kendaraan yang keluar masuk dan penggunaan perangkat elektronik dapat memicu percikan api yang memicu kebakaran kelas B.
Itulah mengapa SPBU diwajibkan memiliki peralatan pemadam api ringan (APAR) khusus kebakaran kelas B yang mampu memadamkan cairan yang terbakar.
Kesadaran pengguna dan pengelola SPBU terhadap potensi bahaya kebakaran kelas B menjadi faktor utama dalam mengurangi risiko terjadinya ledakan besar di area ini.
2. Gudang Penyimpanan BBM
Gudang penyimpanan BBM juga masuk dalam kategori lokasi rawan kebakaran kelas B.
Tempat ini biasanya menyimpan bahan seperti bensin, solar, dan minyak dalam volume yang sangat besar.
Jika terjadi kebocoran atau tumpahan cairan, potensi terjadinya kebakaran kelas B meningkat secara drastis.
Hal ini disebabkan sifat bahan bakar yang mudah terbakar dan dapat menimbulkan ledakan apabila terkena sumber api atau percikan.
Di dalam gudang BBM, pengaturan ventilasi, suhu, dan pengendalian kebocoran menjadi hal wajib untuk menghindari kebakaran kelas B.
Penempatan peralatan pemadam yang sesuai standar, seperti APAR berbahan dry chemical powder, juga harus tersedia di berbagai titik strategis.
Pengelolaan yang tidak sesuai prosedur bisa menjadikan gudang ini sebagai pusat bencana kebakaran kelas B yang sulit dipadamkan dengan air.
3. Pabrik Kimia dan Pelarut
Pabrik kimia dan pelarut merupakan salah satu lokasi paling rawan kebakaran kelas B. Proses produksi yang menggunakan tiner, thinner, dan berbagai cairan pelarut sangat berpotensi memicu kebakaran apabila tidak dikelola dengan baik.
Bahan kimia ini memiliki titik nyala yang rendah sehingga mudah terbakar ketika bersentuhan dengan percikan api atau panas berlebih.
Oleh karena itu, pabrik harus memiliki SOP ketat untuk mengurangi risiko kebakaran kelas B.
Selain manajemen bahan, penggunaan peralatan yang anti-spark dan pengendalian suhu ruangan juga sangat penting.
Kebakaran kelas B di area pabrik kimia dapat menimbulkan ledakan besar serta menyebar dengan cepat ke seluruh fasilitas.
Hal ini bukan hanya merusak properti tetapi juga membahayakan nyawa pekerja. Oleh sebab itu, pemahaman mendalam mengenai karakteristik kebakaran kelas B dan penggunaan alat pemadam yang tepat sangat diperlukan.
4. Depot Gas LPG dan LNG
Depot gas LPG dan LNG juga termasuk lokasi yang rawan kebakaran kelas B. Penyimpanan gas elpiji atau gas alam cair membutuhkan pengawasan ketat karena sifat gas yang mudah menguap dan terbakar.
Kebocoran pada tabung atau instalasi pipa dapat menciptakan atmosfer yang sangat mudah terbakar, sehingga sedikit percikan api saja dapat menyebabkan kebakaran kelas B dalam skala besar.
Untuk mencegah bencana, depot harus dilengkapi dengan detektor kebocoran gas, sistem pemadam otomatis, dan jalur evakuasi yang jelas.
Kebakaran kelas B yang terjadi di depot gas dapat memicu ledakan yang dahsyat karena sifat gas yang terkompresi.
Oleh karena itu, pelatihan tenaga kerja dalam penanganan kebakaran kelas B dan ketersediaan APAR khusus gas serta cairan mudah terbakar menjadi keharusan mutlak di lokasi
D. Bahan-Bahan yang Menyebabkan Kebakaran Kelas B
Bahan yang paling sering terlibat dalam kebakaran ini adalah minyak, pelarut kimia, serta gas bertekanan seperti LPG dan LNG.
Jenis bahan ini termasuk kategori sangat berbahaya karena sifatnya yang mudah menguap dan dapat menimbulkan ledakan bila tidak ditangani dengan benar.
Dalam konteks kebakaran kelas B, minyak dan bahan cair mudah terbakar menjadi sumber api yang dominan di banyak insiden kebakaran industri maupun domestik.
Kebakaran kelas B sering kali terjadi akibat kelalaian dalam pengelolaan bahan ini di gudang penyimpanan atau stasiun pengisian bahan bakar.
1. Minyak (Solar, Bensin, Oli)
Minyak merupakan bahan bakar yang sering menjadi pemicu kebakaran kelas B karena sifatnya yang mudah terbakar pada suhu rendah.
Solar, bensin, dan oli biasanya digunakan pada kendaraan atau mesin industri, sehingga keberadaannya dalam jumlah besar di lokasi tertentu meningkatkan risiko kebakaran kelas B.
Bila ada percikan api kecil yang menyentuh permukaan minyak, api dapat menyebar dengan cepat dan sulit dipadamkan menggunakan air.
Oleh karena itu, area penyimpanan minyak harus dilengkapi dengan APAR khusus kelas B untuk mengendalikan potensi kebakaran kelas B.
2. Tiner dan Pelarut Kimia
Tiner dan pelarut kimia juga menjadi faktor utama terjadinya kebakaran kelas B karena kandungan zat yang sangat mudah menguap.
Tiner biasanya digunakan dalam industri cat dan finishing, sehingga tempat kerjanya menjadi zona berisiko tinggi untuk kebakaran kelas B.
Uap tiner dapat menyebar ke udara dan menyala hanya dengan sedikit percikan listrik statis, yang sering kali terjadi tanpa disadari.
Dalam kasus kebakaran kelas B, tiner membuat api menjalar lebih cepat sehingga penanganannya harus menggunakan alat pemadam khusus seperti busa atau serbuk kimia.
3. LPG (Gas Elpiji)
Gas LPG adalah bahan bakar yang paling sering digunakan di dapur rumah tangga maupun industri restoran.
Kebakaran kelas B yang disebabkan oleh LPG umumnya terjadi akibat kebocoran gas yang bersentuhan dengan percikan api dari kompor atau alat masak.
Kebocoran gas ini tidak selalu terdeteksi secara langsung karena sifatnya yang mudah menguap dan bercampur dengan udara.
Penanganan kebakaran kelas B akibat LPG memerlukan langkah cepat untuk menutup sumber gas dan memadamkan api dengan alat pemadam yang sesuai.
4. LNG (Liquefied Natural Gas)
LNG adalah gas alam yang dicairkan pada suhu sangat rendah untuk memudahkan penyimpanan dan transportasi.
Kebakaran kelas B akibat LNG termasuk kategori berbahaya karena sifatnya yang mudah terbakar dan dapat menghasilkan ledakan besar bila terjadi kebocoran.
Saat LNG menguap, uapnya dapat melayang di udara dan menyala ketika bersentuhan dengan sumber api sekecil apapun.
Itulah sebabnya setiap fasilitas yang menyimpan LNG wajib menerapkan protokol keselamatan ketat untuk menghindari kebakaran kelas B.
Bahan-bahan ini memiliki sifat mudah menguap, sehingga uapnya dapat terbakar hanya dengan sedikit percikan api.
Itulah mengapa kebakaran kelas B menjadi salah satu ancaman terbesar di lokasi yang menyimpan minyak, gas, atau bahan kimia pelarut.
Dalam kasus kebakaran kelas B, proses pemadaman tidak bisa menggunakan air karena dapat memperburuk kondisi dengan menyebarkan bahan bakar yang terbakar.
Penanganan yang tepat memerlukan alat pemadam khusus, ventilasi yang baik, serta pengawasan ketat terhadap potensi sumber api.
Itulah sebabnya sumber api sekecil apapun harus dihindari di area penyimpanan bahan bakar.
Kebakaran kelas B sering kali diawali dari percikan kecil, tetapi dampaknya bisa merusak fasilitas dalam hitungan menit.
Oleh karena itu, penting untuk melatih karyawan dan masyarakat agar memahami bahaya kebakaran kelas B dan langkah pencegahan yang harus dilakukan.
Keselamatan harus menjadi prioritas utama di setiap lokasi yang berpotensi mengalami kebakaran Kelas B.
E. Mengapa Kebakaran Kelas B Berbahaya?
Kebakaran kelas B memiliki bahaya tersendiri karena memiliki sifat yang paling berbahaya dari jenis kebakaran lainnya yaitu ;
1. Sulit Dipadamkan dengan Air
Kebakaran kelas B sangat berbahaya karena tidak bisa dipadamkan hanya dengan menggunakan air.
Hal ini disebabkan oleh sifat bahan bakar cair seperti minyak, bensin, atau pelarut kimia yang tidak larut dalam air.
Jika air digunakan, justru dapat membuat bahan bakar mengapung dan berpindah ke area lain, sehingga memperluas wilayah kebakaran.
Penanganan yang salah ini membuat api menjadi lebih sulit dikendalikan dan memperbesar risiko kerugian.
Dalam kebakaran kelas B, upaya pemadaman harus menggunakan media khusus seperti busa (foam), serbuk kimia kering, atau karbon dioksida (CO₂) untuk memutuskan kontak oksigen dengan bahan bakar.
Metode ini jauh lebih efektif karena dapat menutup permukaan bahan bakar cair sehingga mencegah uap terbentuk dan menghalangi reaksi pembakaran.
Pemahaman ini sangat penting untuk mencegah penyebaran kebakaran yang semakin parah.
2. Risiko Ledakan Tinggi
Kebakaran kelas B memiliki risiko ledakan yang sangat tinggi karena bahan bakar cair dan gas mudah menguap.
Uap yang dihasilkan dapat bercampur dengan udara dan membentuk campuran eksplosif yang bisa menyala hanya dengan percikan api kecil.
Situasi ini sering terjadi di lokasi yang menyimpan bahan bakar seperti SPBU, pabrik kimia, atau gudang penyimpanan minyak.
Bahkan satu kesalahan kecil, seperti percikan listrik, bisa memicu bencana besar.
Ledakan yang terjadi akibat kebakaran kelas B tidak hanya menghancurkan area sekitar, tetapi juga dapat menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Oleh karena itu, pengawasan ketat dan penerapan prosedur keselamatan kerja sangat diperlukan di tempat-tempat yang berisiko tinggi.
Pemahaman tentang karakteristik ini penting agar tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum ledakan terjadi.
3. Penyebaran Cepat Kesegala Arah
Kebakaran kelas B menyebar dengan sangat cepat karena bahan bakar cair dan gas memiliki sifat yang mudah terbakar.
Api bisa menjalar ke area lain dalam hitungan detik, terutama jika ada percikan api atau sumber panas di sekitar.
Sifat bahan bakar ini menjadikan kebakaran kelas B jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan kebakaran kelas A yang biasanya lebih mudah dikendalikan.
Jika tidak segera ditangani, kebakaran kelas B dapat memicu kebakaran sekunder yang lebih besar dan meluas ke area yang tidak seharusnya terbakar.
Oleh karena itu, penggunaan alat pemadam yang sesuai dan respon cepat menjadi faktor utama dalam menekan laju penyebaran api.
Pengetahuan ini harus dimiliki oleh setiap individu, terutama mereka yang bekerja di lingkungan berisiko tinggi.
F. Cara Memadamkan Kebakaran Kelas B
Untuk memadamkan kebakaran kelas B diperlukan cara yang spesifik mengingat uniknya sifat kebakaran jenis ini.
Selain itu dibutuhkan petugas yang berpengalaman untuk memadamkan kebakarankelas B ini, untuk memastikan pemadaman berlangsung dengan aman.
Berikut ini beberapa pilihan media pemadam kebakaran kelas b yang bisa anda pilih yaitu;
1. Gunakan APAR Jenis Tepat
a. APAR Serbuk Kimia Kering (Dry Chemical Powder)**
Penggunaan APAR serbuk kimia kering adalah langkah yang sangat efektif untuk memadamkan kebakaran kelas
Jenis alat ini bekerja dengan cara memutus reaksi kimia yang terjadi di dalam proses pembakaran. Dengan menghentikan reaksi berantai, api dapat segera padam meskipun bahan bakar masih ada.
Inilah alasan mengapa alat ini sering digunakan pada situasi darurat yang melibatkan minyak, bensin, atau bahan cair mudah terbakar.
Selain itu, APAR serbuk kimia kering juga sangat fleksibel karena bisa digunakan pada berbagai kondisi, baik di area industri maupun kendaraan.
Untuk memadamkan kebakaran kelas B yang terjadi di gudang BBM atau SPBU, alat ini menjadi pilihan utama karena mampu menghentikan penyebaran api dalam waktu singkat.
Namun, pastikan penggunaannya sesuai dengan instruksi agar hasil maksimal dan risiko bahaya dapat diminimalkan.
b. APAR Busa (Foam)
APAR busa adalah pilihan yang tepat untuk memadamkan kebakaran kelas B yang bersumber dari cairan mudah terbakar.
Busa yang keluar dari alat ini akan menutupi permukaan bahan bakar cair sehingga oksigen tidak dapat masuk dan bereaksi.
Tanpa oksigen, proses pembakaran tidak akan berlangsung, dan api akan segera padam.
Teknik ini efektif digunakan pada tumpahan bahan bakar di area terbuka seperti parkiran atau area loading BBM.
Selain menghentikan api, APAR busa juga berfungsi untuk mencegah api kembali menyala karena lapisan busa akan tetap berada di atas permukaan bahan bakar.
Hal ini sangat penting pada kebakaran kelas B, karena uap bahan bakar yang tersisa bisa kembali memicu api jika bertemu sumber panas.
Oleh karena itu, penggunaan APAR busa memberikan proteksi lebih untuk mencegah ledakan lanjutan.
c. APAR CO₂ (Karbon Dioksida)
APAR karbon dioksida adalah alat pemadam yang cocok digunakan untuk kebakaran kelas B, terutama di ruangan tertutup.
Gas CO₂ yang dikeluarkan alat ini akan menurunkan kadar oksigen di sekitar api, sehingga proses pembakaran berhenti.
Cara ini sangat efektif pada kebakaran yang melibatkan cairan kimia atau peralatan listrik karena tidak meninggalkan residu.
Kelebihan lain dari APAR CO₂ adalah kemampuannya menjaga kebersihan area setelah pemadaman.
Tidak seperti serbuk atau busa, gas ini tidak meninggalkan bekas sehingga aman untuk lingkungan yang membutuhkan kebersihan tinggi seperti laboratorium atau ruang mesin.
Namun, pengguna harus berhati-hati karena penggunaan di ruang tertutup dapat mengurangi oksigen bagi manusia.
2. Jangan Pernah Gunakan Air Sama Sekali
Menggunakan air untuk memadamkan kebakaran kelas B adalah kesalahan besar yang justru dapat memperburuk situasi.
Air tidak dapat bercampur dengan bahan bakar cair seperti minyak atau bensin, sehingga air akan menyebabkan bahan bakar mengapung dan menyebar ke area lain.
Akibatnya, api akan menjalar lebih luas dan kebakaran menjadi semakin sulit dikendalikan.
Selain memperluas penyebaran api, penggunaan air juga meningkatkan risiko ledakan pada kebakaran kelas B.
Ketika air mengenai bahan bakar panas, uap yang dihasilkan dapat menyulut api kembali atau bahkan memicu ledakan kecil.
Oleh karena itu, hindari penggunaan air dan pilih APAR yang sesuai dengan jenis kebakaran ini agar upaya pemadaman lebih aman dan efektif.
3. Tutup Sumber Bahan Bakar
Memutus suplai bahan bakar adalah langkah penting untuk mengendalikan kebakaran kelas B.
Jika memungkinkan, segera matikan katup atau hentikan aliran bahan bakar agar api tidak memiliki sumber energi untuk terus menyala.
Tindakan ini harus dilakukan dengan cepat dan hati-hati, terutama jika kebakaran terjadi di area industri atau SPBU yang memiliki aliran bahan bakar dalam jumlah besar.
Selain memutus aliran, pastikan semua jalur bahan bakar diperiksa untuk menghindari kebocoran yang dapat menimbulkan kebakaran ulang.
Pada kebakaran kelas B, kontrol terhadap sumber bahan bakar adalah salah satu faktor penentu keberhasilan pemadaman.
Tanpa langkah ini, meskipun api berhasil dipadamkan, risiko kebakaran susulan tetap tinggi.
G. Langkah Pencegahan Kebakaran Kelas B
Dalam upaya pencegahan kebakaran kelas B, maka operator atau pemilik tempat bahan bakar wajib melakukan upaya pencegahan yang serius.
Hal ini mengingat bahaya besar kebakaran kelas B yang bisa terjadi kapan saja ditempat bahan bakar mereka.
Untuk itu mereka bisa melakukan beberapa upaya pencegahan kebakaran kelas B berikut ini
1. Simpan Bahan Bakar di Tempat Aman
Menyimpan bahan bakar di tempat yang aman adalah langkah penting untuk mencegah kebakaran kelas B.
Tangki penyimpanan harus terbuat dari material yang tahan terhadap korosi dan mampu menahan tekanan agar bahan bakar tidak bocor.
Pastikan lokasi penyimpanan jauh dari sumber api dan dilengkapi sistem ventilasi yang baik untuk mengurangi risiko ledakan akibat uap bahan bakar.
Selain itu, kebakaran kelas B sering kali terjadi akibat penyimpanan bahan bakar yang tidak sesuai standar.
Oleh karena itu, pilih tangki yang telah memenuhi standar keselamatan internasional, seperti UL atau SNI, agar keamanan lebih terjamin.
Dengan penyimpanan yang tepat, potensi kebakaran kelas B dapat ditekan secara signifikan.
2. Pasang Sistem Deteksi Kebocoran
Langkah berikutnya adalah memasang sistem deteksi kebocoran untuk mencegah kebakaran kelas B.
Detektor kebocoran akan memberikan peringatan dini jika terdapat gas atau cairan mudah terbakar yang keluar dari tangki atau pipa.
Sistem ini biasanya dilengkapi alarm otomatis yang akan berbunyi begitu sensor mendeteksi anomali.
Dengan adanya deteksi dini, kebakaran kelas B bisa dihindari sebelum api sempat menyala.
Kebocoran bahan bakar cair atau gas adalah salah satu penyebab utama insiden besar.
Oleh karena itu, pemasangan detektor di area penyimpanan dan distribusi bahan bakar sangat penting sebagai bagian dari prosedur keselamatan.
3. Hindari Percikan Api
Menghindari percikan api di area penyimpanan bahan bakar adalah keharusan untuk mencegah kebakaran kelas B.
Percikan kecil dari pengelasan, pemotongan besi, atau korsleting listrik dapat memicu ledakan jika bercampur dengan uap bahan bakar.
Oleh sebab itu, setiap aktivitas yang berpotensi menimbulkan api harus dilakukan jauh dari area penyimpanan.
Selain itu, pekerja harus dilatih untuk mengenali bahaya kebakaran kelas B dan memahami prosedur kerja aman.
Gunakan peralatan anti-percikan dan pastikan area selalu bersih dari sumber panas yang tidak perlu.
Pencegahan ini menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko kebakaran kelas B yang bersifat cepat menjalar.
4. Sediakan APAR Khusus Kelas B
Langkah terakhir adalah memastikan ketersediaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) khusus untuk kebakaran kelas B.
Jenis APAR yang direkomendasikan adalah berbahan serbuk kimia kering, busa (foam), atau karbon dioksida (CO₂).
Ketiga jenis ini efektif menghentikan reaksi kimia bahan bakar dengan oksigen, sehingga api dapat segera dipadamkan.
Selain menyediakan APAR, penting juga untuk menempatkannya di lokasi strategis yang mudah dijangkau saat terjadi kebakaran kelas B.
Setiap karyawan harus mengetahui lokasi APAR dan cara penggunaannya agar penanganan awal bisa dilakukan dengan cepat.
Dengan langkah ini, risiko meluasnya kebakaran kelas B dapat diminimalisir secara maksimal.
H. Kesimpulan
Kebakaran Kelas B merupakan salah satu jenis kebakaran yang paling berbahaya karena melibatkan bahan bakar cair dan gas yang mudah terbakar serta sulit dipadamkan.
Penanganan yang tepat menggunakan APAR jenis serbuk kimia, busa, atau CO₂ sangat penting untuk mencegah kerugian besar.
I. Rekomendasi
Ingin memastikan area kerja atau gudang Anda aman dari kebakaran Kelas B? Gunakan APAR khusus Kelas B dengan kualitas terjamin.
Hubungi penyedia APAR terpercaya untuk konsultasi dan pemasangan.
Semoga bemanfaat & terima kasih
No comments